Dilamar Akhawat

Bismillah,

Judulnya memang tabu dan ambigu, dilamar akhawat? Maksudnya?

Bagi seorang akhawat, dilamar seorang ikhwan shalih adalah hal yang paling ditunggu-tunggu, bukan begitu? Sebuah ibadah sebagai penyempurna separuh dien, yang begitu misteri dengan siapa, kapan, dimana, semua kuasa Allah, rencana Allah, dan hanya Allah yang Maha Berkehendak. Lalu bagiamana jadinya jika yang melamar adalah seorang akhawat?

Ini tak seperti kisah Ibunda Khadijah ra yang melamar Rasulullah saw, lalu apa maksud 'dilamar akhawat?'

Berawal dari kegiatan rutin Talaqqi Tahsin setiap Jum'at, kegiatan ini atas 'demo' teman-teman dakwah di kota saya yang meminta untuk bertalaqqi. Akhirnya ini dijadikan agenda rutinan tiap pekan, selepas itu biasanya kami yang rata-rata berstatus 'menikah' melanjutkan majelis dengan sharing ilmu apapun itu yang pernah dialami, diskusi asik majelis manfa'at, bahagia bisa dipertemukan dengan wanita-wanita yang super luar biasa, semoga Allah ridho. aamiin.

Lagi-lagi, saya ibarat semut merah yang berada di kerumunan semut hitam. Satu-satunya akhawat yang belum Allah takdirkan untuk menyempurnakan separuh dien. But it's not a problem, bagi saya tidak ada kata terlambat menikah, karena menikah bukan balapan (hehee). Entah bagaimana awalnya, tema perbincangan berbelok menjadi pembahasan tentang poligami. Nampaknya kami semua sudah satu frekuensi, bahwa poligami ini adalah syari'at, dan segala aturan yang Allah berikan pasti untuk kemashlahatan manusia itu sendiri. Tak ada seorang pun dari kami yang menentang itu, karena itu sudah aturan Allah. Yaah perbincangan panjang lebar dengan ummahat yang Ma syaa Allah, ilmunya luar biasa, semakin menambah 'ilmu saya yang memang sejak dulu tak menjadikan masalah dengan bahasan sensitif ini. 

Singkat cerita, ada seorang ummahat mendekati saya, beliau berkata, 'Saya sering bahas poligami dengan suami, saya suruh suami poligami tapi beliau hanya diam, katanya carikan saja yang cocok.'

Saya hanya membalas dengan senyuman..

Tiba-tiba beliau menyodorkan sebuah gambar di layar androidnya sambil berkata, 'afwan teh, ini baru selintas yang ada dipikiran saya, dari awal bertemu teteh saya sudah terpikir akan hal ini.

Dengan penuh rasa penasaran, saya lihat layar telepon genggamnya itu, disitu terlihat dua orang akhawat bercadar menggunakan hijab berwarna hitam, yang satu membawa rangkaian bunga yang sedang diberikan kepada kawan akhawat di sampingnya. Disitu tertulis percakapan yang membuat saya sontak tekejut, tulisannya itu

"Ukhti, maukah kau menjadi adik maduku?"

AllahuAkbar, di sisi lain saya kagum dengan ummahat yang satu ini, begitu ridha untuk mencarikan partner dakwah di tengah keluarga kecilnya yang terhitung masih baru itu. Entah harus bahagia atau sedih, lagi-lagi saya hanya jawab dengan senyuman. Membisu, entah harus mengeluarkan kalimat apa.

Hanya kepada Allah lah, memohon petunjuk.. Semoga Allah senantiasa membimbing kita untuk tetap berada dalam ketaatan kepadaNya. 

Allahul Musta'an..

Ummu Nada
Cimahi, 29 Agustus 2015
Pukul 00.25 WIB

2 komentar:

Alfian Syah mengatakan...

Kalau jodoh tak akan kemana ?

Sani Ama mengatakan...

Sudah menjadı ketetapan Allah yg tertulıs dı lauh mahfuz. Tak ada yg bısa menghalangı apa yg sdh Allah kehendakı. Wallahu a'lam

Posting Komentar

 
Copyright © Sani Ama