Tak Melulu Yang Hijau itu Rumput Tetangga, ((Katanya))

Katanya pepatah 'rumput tetangga selalu lebih hijau'. Kok bisa? Kenapa? Bisa jadi karena kita selalu lihat rumput tetangga, tanpa peduli rumput di halaman sendiri.

Merasa terbelakang, yaaah itu yang sedang bergejolak malam ini. Lihat kanan, karib sebaya sudah menggenap, bahkan sudah berhasil beregenerasi tak satu bahkan dua. Lihat depan, ma syaa Allah, sudah hafizhah, mutqin, bersanad. Lihat kiri, wow sudah bisa menjelajah sampai benua lain, karirnya cemerlang, hidupnya mapan.

It's so different with my condition when I see my self on the mirror. Me? What's my strength? my passion? I'm not a shalihah woman, I'm not smart, not rich, even i feel very useless. Merasa seolah hidup setua ini tidak produktif. Jangan tanya karya apa, bahkan bermanfaatpun sepertinya tidak. Manusia macam apa aku ini? :((

Come on giiirrrlll,, it's not time to regret it!

Malu,
malu itu ketika Allah udah kasih kita karunia, nikmat yang tak terhingga. Tapi kita miskin syukur, pelit syukur, malah lupa syukur. Syukur tak cukup dengan ucapan ternyata. Dengan amalan yang paling penting.. Pliisss guys, talk less do more!!

Sekarang mungkin yang hijau rumput tetangga, yang kita punya mungkin gersang, kering kerontang. Tapi masih bisa kita pupuk kembali dengan keimanan dan disirami hujan syukur di setiap waktu. Ikhtiar, do'a, tawakal. Bukan begitu rumusnya kan?

Teringat sebuah kalimat pengingat, 'Kemuliaan seseorang itu cuma Allah yang tahu ya teh.'

Tak melulu yang hijau itu rumput tetangga, rumput kita pun bisa kembali hijau bahkan lebih hijau dan subur dengan pupuk keimanan dan disirami hujan syukur.

0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Sani Ama